William Liu, Dari Hobi Grafis Jadi Bisnis Lewat Creo House

- Mei 01, 2019
Setiap orang niscaya mempunyai hobi dalam kehidupan sehari-hari. Namun tak semua orang bisa mengolah hobi dalam kehidupan pribadinya menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Hanya sebagian orang saja yang bisa menyebarkan hobinya dengan menjadi sebuah bisnis professional dengan laba menjanjikan.

William Liu, anak muda asal Medan, Sumatera Utara, ini ialah salah satunya. Lewat hobinya yang gemar mendesain grafis, William membangun bisnis melalui perjuangan startup (rintisan/pemula) Creo House.

Waktu itu saya sekolah Sekolah Menengan Atas Sutomo di Medan. Sewaktu saya sekolah sampai lulus tahun 2010, saya bebera kali menerima proyek grafik desain untuk keperluan proyek sekolah ibarat poster, atau desain grafis untuk beberapa mitra saya. Meskipun itu masih kecil-kecilan,” kata William dalam wawancara khusus dengan Suara.com di Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Sejak SMA, otak dagang William sudah mulai jalan. Meskipun jasanya hanya dihargai Rp50 ribu-Rp70 ribu, namun penghasilan ini tidak mengecewakan untuk menambah uang sakunya.

Sewaktu kuliah di Universitas Harapan di Medan periode 2010-2014, William mengambil kuliah di Fakultas Ekonomi. Diawal kuliah, ia nyambi bekerja di percetakan PT Inhouse Grafika selama setahun.

Mulai tahun kedua, William mulai berpikir membuka perjuangan sendiri.Namun usahanya ini belum dikelola professional dengan menciptakan merk bagi nama perusahaanya. Ia hanya bekerja secara lepas (freelance) mendapatkan beberapa order desain grafis. “Bisa dibilang saya lebih sibuk berbisnis sehingga kuliah saya agak terbengkalai,” terperinci William.

Selepas lulus kuliah pada tahun 2014, William diajak salah seorang sahabatnya untuk hijrah ke Jakarta dan memulai bisnis di ibu kota sebagai partner. Akhirnya berdirilah tubuh perjuangan berjulukan Creo House dimana William menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO). Namun usahanya ini belum berbentuk tubuh aturan secara resmi. “Kebetulan order Creo House tak cuma di Jakarta, tapi justru lebih banyak di Medan. Customer saya disana tak terlalu mempermasalahkan status tubuh hukum. Sehingga saya merasa belum perlu menghabiskan biaya untuk menciptakan Perseroan Terbatas (PT),” tambah William.
Setiap orang niscaya mempunyai hobi dalam kehidupan sehari William Liu, Dari Hobi Grafis Kaprikornus Bisnis Lewat Creo House


Secara perlahan-lahan, bisnis desain grafis Creo House mulai gencar merambah Jakarta. Market Jakarta dinilai paling menjanjikan dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Bidang perjuangan Creo House yang pertama ialah advertising, terutama merk identity. Kedua, jasa arsitek dengan menjalin partner dengan salah seorang sahabat William yang mempunyai keahlian dalam bisa arsitektur.

Walau demikian, William menegaskan tak akan pernah meninggalkan pasar di Medan. Sebab ia bercita-cita supaya posisi graphic designer tidak dipandang sebelah mata lagi di Medan. Sayangnya, sekarang bisnis desain grafis sudah menjamur di Medan dan banyak yang banting harga. “Kondis ini menjadi tantangan berat buat saya yang semula bercita-cita menciptakan profesi desain grafis lebih dihormati di Medan,” tutur William.

Namun William optimis potensi pasar di Medan masih besar. Terlebih dengan adanya pembangunan Bandara Kualanamu di Medan, ini memperlihatkan stimulus bagi pasar desain grasif. Sebab pembangunan fisik tersebut memicu pembangunan di Medan. “Jika sebelumnya graphic designer dibayar Rp100 ribu-Rp200 ribu per order, sekarang tarifnya meningkat menjadi Rp1juta – Rp2 juta per order,” pungkas William.  (Sumber by Suara.com)
 

Ketik dan Tekan Enter Untuk Mencari!