Menghadapi Rasa Takut Dalam Berbisnis

- Mei 06, 2019
Rasa takut menghadapi resiko dalam memulai bisnis yakni hal masuk akal dan setiap orang niscaya merasakannya. Dan bahkan pengusaha yang sukses juga pernah mengalaminya dan mungkin saja itu terus terjadi. Dalam memulai suatu bisnis, yang paling menghambat seseorang bukan modal ataupun ilmu tetapi yakni rasa takut menghadapi risiko. Apabila kita mau memulai bisnis harus berguru yang namanya menimbang risiko, dimana kita sanggup tahu dan menilai berapa besar risiko yang akan kita hadapi ketika memulai bisnis tersebut.

Sering kali seseorang ingin memulai bisnis, yang menghambat mereka bukan alasannya yakni kurang ilmunya, pengetahuan, atau bahkan kurang modal, melainkan rasa takut. Takut lah yang menghambat mereka untuk memulai bisnis, kalau kita mau mulai berguru bisnis alangkah baiknya kita mengenal satu yang namanya risiko.

Risiko dengan berisiko yakni berbeda, risiko ada 2 unsur, pertama besar kecil kemungkinan terjadinya, yang kedua yakni besar kecil akibatnya, bisa itu positif atau negatif.

Sedangkan berisiko apabila kita sudah menimbang risikonya, yaitu besar kecil kemungkinan terjadinya serta besar kecil akhir negatifnya dan positifnya. Ternyata risikonya tidak bisa kita terima, berarti bisnis tersebut berisiko.

Mari kita tes dengan angka, contohnya Anda mulai bisnis dengan kemungkinan berhasil 1:9. Maksudnya apa, Anda bisnis 10 kali berhasilnya cuma sekali, yang kesepuluh bangkrut. Kira-kira Anda mau atau tidak, tentu saja Anda berbicara tidak mau.

Kenapa tidak mau? alasannya yakni Anda merasa kemungkinan gagalnya jauh lebih besar dan Anda tidak mau. Anda lupa menimbang apa yang perlu Anda timbang? Yaitu besar kecilnya karenanya kalau terjadi.

Misalnya begini, kalau bisnis Anda gagal, Anda cuma bayar satu, tetapi kalau berhasil Anda sanggup 50 kali. Mari kini kita hitung lagi, saya ulangi sekali lagi. Kalau Anda tidak berhasil efeknya paling jelek Anda bayarnya cuma satu. Tetapi sekali berhasil Anda sanggup 50 risikonya, bisa Anda terima.

Mari kita hitung perjuangan Anda, 10 kali berhasilnya cuma 1. Berarti Anda gagalnya 9 kali dan Anda bayar satu, satu saja. Tetapi kalau Anda berhasil dapatnya 50 kira-kira mau tidak? Mau, berapa kali. Anda niscaya mau sebanyak-banyaknya bisnis dengan kemungkinan berhasil 10 persen.

Karena kalau sekali berhasil Anda sanggup 50 kali lipat dibanding kalau Anda gagal sekali. Sekarang ketika mulai bisnis kita akan selalu menimbang akan hal ini.

Kemungkinan berhasilnya berapa persen dan kemudian yang kedua yakni karenanya apa? Kalau saya berhasil saya sanggup apa? Tetapi kalau saya tidak berhasil saya bayar berapa. Berarti tergantung juga satu unsur lagi dari kondisi keuangan Anda.

Kalau kondisi keuangan Anda hari ini contohnya 20, Anda mainnya berapa? Misalnya Anda mainnya dua,dua,dua. Atau Anda mainnya satu,satu. Atau mainnya sepuluh, sepuluh dan Anda cuma main dua kali saja.Kalau kemungkinan berhasilnya 1:9 atau 10 persen, Anda cuma punya uang 20 Anda harus main dan mainnya satuan saja. Misalnya Rp 20.000.000 Anda mainnya Rp 1.000.000, Rp.1.000.000. Tetapi kalau Rp 100.000.000 Anda main Rp10.000.000, Rp10.000.000 .

Karena rasio keberhasilannya 1:9 main 10 kali 9 kali gagal dan 1 kali berhasil.Mungkin tidak ternyata luput Anda main Rp20.000.000 dan ikut Rp 1.000.000.Kalau hingga kalah 15 kali pun tidak masalah. Begitu ke 16 kali menang dan sanggup Rp 50.000.000 gres seru. Dengan demikian ketika memulai bisnis Anda mulai tanya, risikonya apa.

Resiko yang paling bururk apa, contohnya resiko paling jelek saya kehilangan sejumlah uang sekian. Saya sudah rela, kemudian kemungkinan berhasilnya 50:50. Dan kalau saya berhasil dapatnya “Lima kali lipat”.Yang paling penting saya bisa main 3 kali hingga 4 kali. Sekali menang saya sanggup 5 kali lipat.

Dengan memanage resiko menyerupai ini kita gali pertanyaan lagi. Misalnya begini, ketika mau mulai bisnis, karenanya kalau saya bisnis ini saya kehilangan Rp100.000.000 , dan Rp100.000.000 masih bisa saya terima. Tetapi lebih baik Andatanya lagi biar kalau Rp 1.000.000 kemungkinan resikonya jauh lebih kecil.

Ini bisa tidak pakai istilah bagi hasil. Tidak harus keluar modal terlebih dahulu, modalnya bisa dari orang lain terlebih dahulu atau dari suplier Anda.

Sehingga Anda tidak pakai modal dan kemungkinan Anda ruginya jauh lebih nol lagi alasannya yakni sudah tanpa modal sama sekali. Kemudian Anda bisa “Konsinyasi” terlebih dahulu, karenanya kalau Anda tidak laris Anda bisa kembalikan saja.

Pertanyaan kedua biar kemungkinan berhasilnya jauh lebih besar sehabis Anda mulai menimbang resikoAnda jangan lupa tanya kedua hal ini. Karena biar karenanya jauh lebih kecil, bisa tidak konsinyasi dulu atau bisa tidak ada garansinya.

Supaya kemungkinan untung jauh lebih besar, saya harus berguru dengan siapa. Ketika Anda menimbang menyerupai ini, hidup Andaakan jauh lebih berani ambil resiko. Karena resiko selalu ada dan bisa terjadi dimana-mana.

Memang di luar aliran kita, tetapi kalau kita bisa terima Anda mendengarkan CD saya ini Anda juga menyaksikan DVD ini. Pertanyaannya ada tidak risikonya? Bisa jadi rumah Anda di langgar pesawat terbang dan Anda mati, mungkin tidak?Itu mungkin sekali dan pertanyaannya itu risiko dan ini kemungkinannya kecil.

Atau bisa juga dikala ini kalau Anda nonton ramai-ramai bersama saudara Anda mungkin tidak kemungkinannya sanggup terjadi, atau resiko ini terjadi tetapi karenanya kecil. Misalnya orang yang seruangan Anda kentut, niscaya kan ada efeknya. Ya efeknya itu bau, kemungkinan terjadinya besar dan itu bisa kita abaikan.Sesuatu hal yang kita timbang ini kita tidak bisa menerimanya berarti resiko. 
Sumber Artikel dari Ayopreneur.com
 

Ketik dan Tekan Enter Untuk Mencari!