Pengertian Asuransi Syariah Dan Perbedaannya Dengan Asuransi Konvensional

- April 24, 2019
Pengertian asuransi syariah yaitu sebuah perjuangan untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang, di mana hal ini dilakukan melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang memperlihatkan contoh pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui kesepakatan (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Saat ini, ada banyak jenis dan manfaat yang ditawarkan oleh asuransi, di mana setiap perusahaan asuransi mempunyai bermacam-macam fitur dan keunggulan pada masing-masing produk yang mereka keluarkan. Namun sebagai calon pengguna, maka sudah sewajarnya kalau kita memahami dan mengenal dengan baik asuransi yang akan kita pilih dan gunakan. Hal ini akan membantu kita untuk mendapat manfaat dan laba yang maksimal atas penggunaan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, asuransi syariah menjadi salah satu produk asuransi yang banyak dibicarakan dalam kalangan masyarakat. Asuransi ini hadir untuk memenuhi kepentingan dan harapan banyak orang yang mengharapkan adanya sebuah produk asuransi yang halal dan sesuai dengan ketentuan syariah.

Menurut Dewan Syariah Nasional, asuransi syariah yaitu sebuah perjuangan untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang, di mana hal ini dilakukan melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang memperlihatkan contoh pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui kesepakatan (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Dalam asuransi syariah, diberlakukan sebuah sistem, di mana para penerima akan menghibahkan sebagian atau seluruh bantuan yang akan dipakai untuk membayar klaim kalau ada penerima yang mengalami musibah. Dengan kata lain sanggup dikatakan bahwa, di dalam asuransi syariah, peranan dari perusahaan asuransi hanyalah sebatas pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima saja.

Dalam perkembangannya, asuransi syariah mempunyai banyak keunggulan dan kelebihan kalau dibandingkan dengan asuransi konvensional. Hal ini tentu saja menciptakan adanya perbedaan fundamental di antara kedua jenis asuransi tersebut. Berikut ini yaitu perbedaan yang terdapat di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional:

  • Pengelolaan Risiko
Pada dasarnya, dalam asuransi syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana hibah (tabarru). Dengan begitu sanggup dikatakan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan di dalam asuransi syariah yaitu memakai prinsip sharing of risk, di mana resiko dibebankan/dibagi kepada perusahaan dan penerima asuransi itu sendiri.

Sedangkan di dalam asuransi konvensional berlaku sistem transfer of risk, di mana resiko dipindahkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagi penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut.

  • Pengelolaan Dana
Pengelolaan dana yang dilakukan di dalam asuransi syariah bersifat transparan dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk mendatangkan laba bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.

Di dalam asuransi konvensional, perusahaan asuransi akan menentukan jumlah besaran premi dan banyak sekali biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan laba yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri.

  • Sistem Perjanjian
Di dalam asuransi syariah hanya dipakai kesepakatan hibah (tabarru) yang didasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal. Sedangkan di dalam asuransi konvensional kesepakatan yang dilakukan cenderung sama dengan perjanjian jual beli.

  • Kepemilikan Dana
Sesuai dengan kesepakatan yang digunakan, maka di dalam asuransi syariah dana asuransi tersebut yaitu milik bersama (semua penerima asuransi), di mana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana saja. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, alasannya yaitu premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi yaitu milik perusahaan asuransi tersebut, yang mana dalam hal ini perusahaan asuransi akan mempunyai kewenangan penuh terhadap pengelolaan dan pengalokasian dana asuransi.

  • Pembagian Keuntungan
Di dalam asuransi syariah, semua laba yang didapatkan oleh perusahaan terkait dengan dana asuransi, akan dibagikan kepada semua penerima asuransi  tersebut. Namun akan berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, di mana seluruh laba yang didapatkan akan menjadi hak milik perusahaan asuransi tersebut.

  • Kewajiban Zakat
Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat yang jumlahnya akan diubahsuaikan dengan besarnya laba yang didapatkan oleh perusahaan. Hal ini tidak berlaku di dalam asuransi konvensional.

  • Klaim dan Layanan
Di dalam asuransi syariah, penerima sanggup memanfaatkan dukungan biaya rawat inap di rumah sakit untuk semua anggota keluarga. Di sini diterapkan sistem penggunaan kartu (cashless) dan membayar semua tagihan yang timbul.

Satu polis asuransi dipakai untuk semua anggota keluarga, sehingga premi yang dikenakan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku dalam asuransi konvensional, di mana setiap orang akan mempunyai polis sendiri dan premi yang dikenakan tentu akan lebih tinggi.

Asuransi syariah juga memungkinkan kita untuk sanggup melaksanakan double claim, sehingga kita akan tetap mendapat klaim yang kita ejekan meskipun kita telah mendapatkannya melalui asuransi kita yang lain.

  • Pengawasan
Di dalam asuransi syariah, pengawasan dilakukan secara ketat dan dilaksanakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibuat eksklusif oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diberi kiprah untuk mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan aliran atau aturan yang mengaturnya. Di setiap forum keuangan syariah, wajib ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas sebagai pengawas. DPS ini merupakan perwakilan dari DSN yang bertugas memastikan forum tersebut telah menerapkan prinsip syariah secara benar.

DSN inilah yang kemudian bertugas untuk melaksanakan pengawasan terhadap segala bentuk operasional yang dijalankan di dalam asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan oleh penerima asuransi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram. Hal ini akan dilihat dari asal dan sumber harta tersebut serta manfaat yang dihasilkan olehnya.

Berbeda halnya dengan asuransi konvensional, di mana asal dari objek yang diasuransikan tidaklah menjadi sebuah masalah, alasannya yaitu yang dilihat oleh perusahaan yaitu nilai dan premi yang akan ditetapkan dalam perjanjian asuransi tersebut.

  • Instrumen Investasi
Hal ini juga menjadi sebuah perbedaan yang besar dalam asuransi syariah dan konvensional. Di dalam asuransi syariah, investasi tidak sanggup dilakukan pada banyak sekali acara perjuangan yang bertentangan dengan prinsip syariah dan mengandung unsur haram dalam kegiatannya. Yang termasuk dalam acara ini adalah:

Perjudian dan permainan yang tergolong ke dalam judi. Perdagangan yang tidak boleh berdasarkan syariah, antara lain: perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, dan perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu. Jasa keuangan ribawi, antara lain: bank berbasis bunga, dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan / atau judi (maisir).

Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan banyak sekali barang, seperti: barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan alasannya yaitu zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

Ketentuan ibarat ini tentu saja tidak berlaku di dalam asuransi konvensional, alasannya yaitu intinya di dalam asuransi   konvensional perusahaan akan melaksanakan banyak sekali macam investasi dalam banyak sekali instrumen yang ditujukan untuk mendatangkan laba yang sebesar-besarnya bagi perusahaan. Hal ini sanggup dilakukan tanpa menggunakan/mempertimbangkan haram atau tidaknya instrumen investasi yang dipilih, alasannya yaitu intinya di dalam asuransi konvensional dana yang dilekola yaitu benar-benar dana milik perusahaan dan bukan milik pemegang polis asuransi, dengan begitu perusahaan mempunyai kewenangan penuh dalam penggunaan dana tersebut, termasuk dalam menentukan jenis investasi yang akan digunakan.

Dana Hangus
Di dalam beberapa jenis asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi konvensional, kita mengenal istilah “dana hangus” yang mana hal ini terjadi pada asuransi yang tidak diklaim (misalnya asuransi jiwa yang pemegang polisnya tidak meninggal dunia sampai masa pertanggungan berakhir). Namun hal ibarat ini tidak berlaku di dalam asuransi syariah, alasannya yaitu dana tetap sanggup diambil meskipun ada sebagian kecil yang diikhlaskan sebagai dana tabarru.

Pertimbangkan dengan Baik Asuransi yang Akan Digunakan
Pada dasarnya asuransi syariah dan konvensional mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, di mana kita sebagai calon pengguna wajib memahami dan sanggup mempertimbangkan dengan baik asuransi mana yang paling sempurna untuk kita gunakan. Sesuaikan kebutuhan kita dengan jenis asuransi yang kita gunakan, dengan begitu kita sanggup mendapat manfaat dan laba yang maksimal atas penggunaan tersebut. (Sumber Artikel by Cermati.com)
 

Ketik dan Tekan Enter Untuk Mencari!