8 Ciri Perusahaan Waralaba Yang Bakal Merugikan Anda

- April 30, 2019
Model bisnis waralaba atau franchise yakni model bisnis yang menunjukkan keuntungan untuk pewaralaba (pemberi waralaba / franchisor) dan terwaralaba (penerima waralaba / franchisee). Waralaba juga sanggup dijadikan salah satu pertimbangan untuk mencapai kebebasan keuangan (financial freedom). Seseorang yang membeli waralaba, artinya orang tersebut membeli sebuah sistem bisnis. Sistem tersebut yang diperlukan akan bekerja dan mendatangkan penghasilan pasif. Sayangnya tidak semua waralaba bisa mendatangkan pendapatan pasif, terlebih kalau oknum pewaralaba kurang menguasai bisnis atau beriniat untuk tidak baik.

8 Ciri Perusahaan Waralaba yang Bakal Merugikan Anda

Memilih waralaba atau franchise yakni hal yang krusial. Jika Anda melaksanakan kesalahan dalam menentukan waralaba atau franchise, Anda sanggup mengalami kerugian yang besar. Berikut ini 8 ciri perusahaan waralaba yang bakal merugikan Anda:
  1. Waralaba (sistem dan manajemen) masih gres dan belum teruji bisa menghasilkan pendapatan dalam jangka waktu panjang. Banyak sekali waralaba makanan gres yang muncul dan ternyata tidak bisa bertahan dalam jangka panjang (10 – 20 tahun).
  2. Waralaba yang sudah mapan dan teruji, seringkali mengenakan biaya investasi di awal yang cukup besar, misal fee, royalty, pembelian materi baku dan lain sebagainya. Ada yang mengharuskan terwaralaba, membeli bahan-bahan baku dari pewaralaba. Tentu saja pewaralaba akan mengambil keuntungan dari harga tersebut. Sebelum Anda membeli waralaba, kenali juga cara-cara pewaralaba mendapat keuntungan dari Anda.
  3. Jika Anda ingin membeli waralaba asing, ada berbagai persyaratan yang harus Anda penuhi. Terlebih kalau perusahaan waralaba tersebut meminta Anda sebagai master franchise di Indonesia. Aturan permainan (rule of the game) antara master franchise dan franchise jauh berbeda. Sebaiknya Anda pelajari lebih dalam, diskusikan dengan konsultan waralaba sebelum mendatangkan waralaba gila ke Indonesia.
  4. Cek administrasi dan orang-orang dibalik perusahaan, alasannya yakni administrasi yang payah dan kurang berpangalaman, sedikit banyak akan merugikan Anda sebagai terwaralaba.
  5. Beberapa perusahaan warlaba di Indonesia masih kurang bonafid dari segi administrasi dan kekurangan modal untuk menyebarkan usaha. Hal ini tentu saja akan merugikan Anda sebagai terwaralaba, kalau hingga perusahaan pewaralaba mengalami kebangkrutan.
  6. Masih melanjutkan poin di atas, beberapa perusahaan waralaba, masih dijalankan dengan sistem tradisional, contohnya tidak memakai komputerisasi, tidak mempunyai rencana pemasaran yang jelas, tidak mempunyai anggaran untuk iklan dan promosi.
  7. Awas adanya sistem money game atau penipuan yang berkedok penawaran waralaba atau franchise. Seringkali kesempatan-kesempatan yang ada, dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyesatkan pembeli. Skema yang sering dipakai yakni denah Ponzi.
  8. Sebelum Anda membeli waralaba, pastikan Anda mengecek kepengurusan brand (HAKI – Hak Kekayaan Intelektual). Jangan hingga Anda sudah beli waralaba, eh ternyata pewaralaba mengalami permasalahan tuntutan brand di pengadilan. Silahkan kunjungi website Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual untuk mengecek registrasi merk. Pastikan brand waralaba sudah terdaftar atas nama pemilik atau perusahaan. 


Jangan Asal Beli Franchise

Ketika kita akan membeli franchise, dokumen yang akan kita terima yakni prospectus atau dokumen klarifikasi mengenai franchise. Biasanya orang hanya melihat bab finansial, melihat berapa modal yang harus dikeluarkan dan berapa usang balik modal. Sebaiknya Anda jangan hanya mempertimbangkan faktor keuangan saja, melainkan:
  1. Legalitas usaha
  2. Kepengurusan brand dan hak kekayaan intelektual lainnya
  3. Sistem operasional, apakah memakai teknologi atau tidak, apakah bisa dikontrol setiap waktu dan lain sebagainya.
  4. Sistem pemasaran dan rencana pemasaran. Pastikan Anda mendapat klarifikasi mengenai taktik pemasaran dan perhitungan anggaran. Apakah pewaralaba juga akan membantu biaya pemasaran atau 100% ditanggung terwaralaba.
  5. Perhitungan mengenai keuangan (financial). Pastikan kembali perhitungan-perhitungan yang dibentuk dan seluruh perkiraan yang ada. Perhatikan sumber-sumber pemasukan dan pengeluaran Anda.
  6. Pikirkan potensi bisnis, apakah bisnis serupa gampang ditiru (entry barrier), apakah sulit untuk dijalankan dan lain sebagainya.

Banyak orang merasa menyesal dan menyalahkan pewaralaba, saat bisnisnya tidak jalan. Untuk menghindari hal tersebut, Anda perlu mempelajari betul-betul sistem bisnisnya sebelum membeli. Berita baiknya beberapa bank di Indonesia menunjukkan kredit atau pemberian kepada kita yang ingin membeli waralaba.

Sebenarnya ini yakni keuntungan atau bonus untuk kita sebagai terwaralaba, alasannya yakni bank sudah membantu memilihkan perusahaan waralaba yang bonafide. Setidaknya bank tentu akan berhati – hati dan melihat potensi bisnis, sebelum mereka mau menunjukkan kredit. (Sumber by Finansialku.com)
 

Ketik dan Tekan Enter Untuk Mencari!